ZMedia Purwodadi

Ribuan Warga Padati Alun-Alun Pacitan, Rontek Gugah Sahur Berlangsung Meriah

Table of Contents

Pacitan – Ribuan warga memadati kawasan Alun-Alun Pacitan pada Kamis malam (19/3/2026), bertepatan dengan Ramadan minggu ke-4. Mereka datang untuk menyaksikan tradisi Rontek Gugah Sahur yang menjadi salah satu budaya khas daerah tersebut.

Rontek Gusikgah Sahur diawali dengan para peserta yang berjalan mengelilingi wilayah masing-masing secara berkelompok. Dengan iringan alat musik tradisional, mereka menyusuri jalanan untuk membangunkan warga sahur. Perjalanan tersebut kemudian berlanjut hingga melintasi kawasan Alun-Alun Pacitan yang menjadi titik pusat keramaian penonton.

Sejak malam hari, kawasan alun-alun dipenuhi masyarakat dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Antusiasme terlihat jelas saat para peserta rontek menampilkan atraksi dengan iringan musik tradisional yang menggema di sepanjang area.

Salah satu warga, Agusti, asal Kecamatan Arjosari, mengaku rela datang demi menyaksikan kemeriahan acara tersebut.
“Senang sekali bisa melihat langsung rontek di alun-alun. Suasananya ramai dan seru, apalagi ini sudah mendekati akhir Ramadan,” ujarn
ya.

Pertunjukan rontek tahun ini semakin semarak dengan iringan gamelan serta pertunjukan kembang api yang menghiasi langit malam Pacitan. Sorak sorai penonton pun menambah semangat para peserta.

Peserta Rontek Gugah Sahur terbagi dalam beberapa rayon, yakni:

Rayon Barat
Kelurahan Pacitan, Kelurahan Pucangsewu, Desa Sumberharjo, Desa Bangunsari, Desa Sedeng

Rayon Utara
Desa Widoro, Desa Nanggungan, Desa Tanjungsari

Rayon Selatan
Kelurahan Sidoharjo, Kelurahan Ploso, Kelurahan Baleharjo

Rayon Timur
Desa Arjowinangun, Desa Sirnoboyo, Desa Sukoharjo, Desa Kembang, Desa Mentoro, Desa Menadi, Desa Purworejo

Kegiatan ini menjadi penampilan penutup Rontek Gugah Sahur di Pacitan pada Ramadan tahun ini. Meski menjadi penutup, antusiasme masyarakat justru semakin tinggi sebagai bentuk kecintaan terhadap tradisi lokal.

Tradisi ini diharapkan terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Pacitan di setiap bulan Ramadan.